Anak Presiden Soeharto……

Obat..Nguantuuuuuuk…hehhehheh
Pada suatu hari Tutut (anaknya Soeharto), lewat di
> jalan tol di Jakarta .
> Penjaga Tol: “4500 rupiah”.
> Bu Tutut yang emang ngak punya uang seribuan
> mengeluarkan uang 50 ribu rupiah langsung saja
> menyodorkan tuch uang.
>
> Penjaga Tol: “Ini Bu, kembaliannya. “
> Bu Tutut: “Sudah…simpan saja buat keluarga anda.”
> Penjaga tol merasa senang karena menerima 45.500
> rupiah dan langsung berterima kasih kepada Tutut.
>
> Setelah beberapa jam Tommy dateng melewati jalan tol
> tersebut. Karena mereka tuch anaknya Soeharto, ngak
> punya uang receh, Tommy mengeluarkan uang 20 ribuan.
>
>
> Penjaga Tol: “Ini Pak, kembaliannya 15.500.”
> Tommy: “Sudahlah, simpan aja buat sekolah anak
> anda.”
> Penjaga langsung memasukan kembalian itu ke
> kantongnya
> dan berterima kasih banyak ke Tommy.
>
> Setelah beberapa jam Soeharto dengan mobilnya lewat
> jalan tol.
> Soeharto mengeluarkan uang 5000 rupiah dan
> disodorkan
> ke penjaga tol. Soeharto menunggu uang kembaliannya
> itu dan setelah menunggu 5 menit, ditanyanya kepada
> penjaga tol :
>
> Soeharto: “Lho, mana uang kembalian saya ?”
> Penjaga Tol: “Ah Bapak, masa uang 2000 rupiah aja
> dibalikin. Tadi bu Tutut dan pak Tommy lewat
> kembaliannya 45.500 dan 15.500 aja diberikan ke
> saya,
> masa Bapak yang gopek aja minta kembalian?? “
> Soeharto: “Tunggu dulu mas !! Anda tau sapa Tutut
> dan
> Tommy??”
Penjaga Tol dengan cekatan menjawab: “Yach tahu Pak!
> Pertanyaan gampang tho, jelas Tutut dan Tommy tuh
> Anaknya Presiden.”
> Soeharto: “Pinter kamu, tahu mereka anak Presiden.
> Nah
> sedangkan saya kan cuma Anak Petani !! Sekarang,
> mana
> kembalian saya??”
> Penjaga Tol : !*#@^$%#@$$

Maafkan Dita Ayah…..(Haruskah Mendidik anak DEngan Kekerasan..!!!?)

Unutk Para orangtua khususnya Para Bapak, Papa, Ayah…yg selalu berlaku kasar pada anak anaknya….jgn lakukan kekerasan pada anak anak anda sebelum pada akhirnya anda akan menyesal…

Maafkan Dita Ayaaaah….pilu sekali hati saya membaca cerita ini..semoga Allah memberikan pengampunan pada ayah Dita, dan memberikan kesabaran serta ketegaran untuk Dita…

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik … kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ditadalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhubadan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikanterkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam lina ngan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Sangat patut jadi renungan

Yakin Akan KeBesaranMU Ya Allah…Illahi Robby

06012009271Tabah dalam menjalani hidup….inilah yg aku lakukan, rasakan sekarang….begitu aneka ragamnya masalah yg aku hadapi, sehingga aku merasakan keterpurukan dan kelelahan dalam menjalani hidup dan kehidupan,kurasakan keletihan dalam setiap langkah hidupku….kurasakan kegusaran dalam setiap pandangan ku, menit ke menit, betapa sukarnya setiap jam aku lalui…tapi aku harus kuat…aku harus bisa melagkah dan berjalan di antara kerikil kerikil tajam yg menusuk telapak kakiku….aku harus bisa menyelesaikan semua lembaran lembaran cerita dalam alur hidupku…ku berusaha untuk tetap tegar ..dan tersenyum lembut..karena aku tau dibalik semua ini ada sesuatu yang INDAH yg diberikan Allah kepadaku… inilah ujian buat ku, ujian yg akan membuatku maju dan inilah ujian kenaikan kelas dalam hidupku…Aku yakin akan kebesaranNya, Aku yakin akan segala sesuatu yang diberikanNya padaku adalah yg terbaik untuk aku. Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Mendengar Maha Melihat..Dia tidak ingin umatnya terpuruk DIa Maha Adil dan Bijaksana..Ku yakin semua ini akan segera berakhir, maka datanglah terang dalam hidupku…datanglah kebahagiaan dan Ridho dari Mu ya Allah…agar aku tetap bersyukur Nikmat atas apa Yg Engkau berikan padaku…

Untuk kakakku tercinta…

Sabarkan hatimu, kuatkan dirimu, kobarkan semangat dalam hidupmu, jgn pernah berputus asa…Yakinlah semua ini akan berakhir…yakinlah semua ini yg terbaik yg diberikan Allah padamu.  Yakin akan kesembuhan yg selama ini kita harapkan segara Datang menemani hari harimu dimasa yg akan datang…kembangkanlah senyummu…tebarkan tawa candamu yg dulu selalu ada mengisi hari harimu…Yakin akan KebesaranNya…

Wa…cepet sembuh ya..ti doain wa kembali seperti dulu lagi

Ibuku Seorang Mujaheed…..

My mother is a mujaheed ,” kata teman Tunisiaku dengan nada cinta dan kerinduan yang sangat dalam. Perasan kagum, iri dan haru, bercampur menjadi satu dalam senyumku.

Aku telah mendengar ratusan pujian tentang ibu, tapi tak pernah kudengar pujian seperti ini yang diucapkan dengan kata-kata yang indah dan perasaan yang sangat dalam. Ingin aku mencintai ibuku seperti itu, ingin aku bisa mengucapkan kalimat seperti itu tentang ibuku sendiri.

Ia selalu menyelipkan pujian tentang ibunya di setiap percakapan. Dan aku tak pernah mendapati teman seperti ini yang sangat bangga dan memuji-muji ibunya yang masih hidup dengan kerinduan yang dalam. Yang aku dapati jika terdengar kata ibu, paling paling adalah complain tentang ibu masing masing.

Ibu seperti apa yang ia miliki sampai ia bisa mengucapkan kalimat seindah itu tentang ibunya dengan kerinduan yang dalam.

Ia bercerita. Sejak sang ayah yang saat itu adalah professor Bahasa Arab wafat, sang ibu mengambil alih peran sang ayah. Ia bukan saja mengurus kebutuhan fisik ke tiga belas anaknya yang lima di antaranya adalah anak tiri, namun juga pendidikan agama dan bekal ilmu pengetahuan mereka untuk masa depan.

Ibunya mencintai ke tiga belas anaknya dan memperlakukannya sama rata. Walaupun lima anak pertamanya adalah anak tiri hasil dari istri pertama yang telah wafat dari sang suami. Bahkan, masa kecil ke lima kakak kakak tirinya mendapatkan perhatian lebih dari ibunya, karena saat itu ibunya belum mempunyai anak kandung.

Saat aku memuji ibunya yang hebat karena, bersedia menikahi duda dengan lima anak. Teman Tunisiaku itu berkata: ” Sebelum menjawab lamaran ayah, ayah dari ibuku memanggil ibu dan berkata, lima anak dari calon suamimu ini bisa menjadi nerakamu, atau surgamu.”

Aku tertegun lagi. Sesuatu yang hampir mustahil ku lakukan…

Teman Tunisiaku ini mencinta ketiga belas saudaranya tanpa perbedaan sedikitpun walaupun lima dari kakak kakaknya adalah kakak tiri.

Ia menyukai mereka semua dan tidak satupun dari saudaranya yang ia keluhkan. Ada perasaan cemburu campur malu lagi.

Ah, kita yang hanya tiga atau empat atau tujuh bersaudara saja kadang mengeluh. Adik yang ini beginilah, adik yang itu begitulah,kakak yang ini beginilah….Sedangkan ia yang tiga belas bersaudara dengan lima saudara tiri tidak mengeluhkan seorangpun dari saudaranya.

Bahkan ia paling dekat dengan kakak perempuan tirinya.

Mereka tumbuh bagaikan bunga bunga indah dalam kehidupan yang keras.

“Ibuku bangun pagi dan menyiapkan sarapan untukku dan kedua belas saudaraku.. Beliau membuatkan jus wortel segar, dan mengelap sepatu sepatu kami saat kami sarapan. Saat kami mencegahnya, beliau meminta kami untuk tidak menghiraukannya. Beliaulah yang menjahit pakaian pakaian kami karena pakaian sangat mahal.”

Yah akupun di buat surprise olehnya, karena ternyata pakaian jilbab-jilbab panjang nan indah itu bukan dibeli dari toko melainkan dijahit sendiri oleh ibu tercinta.

“Ibuku bangun pagi sekali dan mengurus kebutuhan kami semua. Ia hampir tidak pernah membeli makanan kecil untuk kami melainkan membuatnya sendiri. “

Beberapa kali dalam seninggu, ibunya akan duduk di suatu ruangan di malam hari, dan anak anaknya akan berbaris mendatanginya bergiliran dengan buku pelajaran sekolah dan hapalan mereka.

Anak yang paling besar menjadi supervisor membantu ibunya mengetes hapalan adik adiknya.

Berbeda dengan ayah tercinta yang keras dan disiplin dalam mendidik anak anaknya, “Ibu selalu menasihati kami dengan lembut dan jarang marah. Sekali marah kami akan sangat takut sekali. Ibuku sangat mencintai Allah dan tiada hari tanpa Al Qur’an di tangannya. Ia sangat santun pada tetangga-tetangga kami dan selalu memperingatkan kami untuk tidak melakukan hal-hal yang akan mengganggu kenyamanan orang lain, walau sekecilpun. Karena perbuatan sebesar zarrahpun akan di balas.”

“Ibu selalu mengingatkan kami untuk istiqamah dalam hal apapun dan di mana saja. Sewaktu aku tidak punya uang untuk kuliah, satu satunya yang dapat dilakukan adalah meminjam uang dari pemerintah dengan sistem riba. Ibu memohon agar aku tidak mengambil pinjaman itu.Padahal ibu sangat disiplin tentang pendidikan anak-anaknya, dan beliau tau kalau aku tak ambil aku tak bisa sekolah.Tapi beliau berkata, kalau kau pilih sekolah, sekolah akan hilang, kalau kau pilih Allah, Allah tidak akan hilang.”

Setelah gelisah sana sini ia menimbang-nimbang, akhirnya ia memilih untuk tidak mengambil pinjaman itu. Ia sudah pasrah untuk tidak sekolah, tapi ia percaya pasti Allah akan menolongnya.

Tanpa disangka-sangka dari hari ke hari murid murid privatnya bertambah banyak dalam waktu singkat. Bahkan salah satu orang tua muridnya yang kaya raya meminta ia untuk tinggal bersama mereka di rumah mereka yang besar. Ia diberi kamar dengan fasilitas yang lengkap untuk belajar. Bahkan, ia disekolahkan dan fasilitasi personal computer. Ia mendapatkan pekerjaan yang bagus bahkan bea siswa untuk mangambil gelar master dan Phd nya di Jepang.

Ia yakin bahwa itu adalah pertolongan Allah.

Aku bayangkan jika itu aku dengan anakku. Mungkin kami akan pilih sekolah dan mengganggap sepele bunga pinjaman.

Aku mengenal temanku ini sebagai pribadi yang kuat, istiqomah, rela berkorban, bangga terhadap identitasnya sebagai muslim di negara manapun ia berada

Suatu saat aku mendengarkan lagu lagu rohani Islam Indonesia. Saat ia mendengar lagu Ummi yang dibawakan oleh Haddad Alwi ia berkata, “Aduh aku ingin menangis rasanya mendengar lagu ini. Aku rindu ibuku. Aku akan menulis syair lagu ini dan mengirimkannya pada ibu.”

Ummi ibu……

Aah andaikan kita bisa seromantis itu pada ibu-ibu kita.

Apakah kita akan membela diri ?

Sahabat-sahabatku yang lain berkata, “Ah, dia khan bisa begitu karena ibunya seperti itu. Kalau ibuku seperti itu… mungkin aku juga akan seperti itu…”

Tapi sahabat, ibu adalah seorang ibu.

Seseorang yang harus dihormati, dimuliakan. Bukankah itu haknya, diperlakukan dengan lemah lembut saat masa tuanya.

Ibu, dengan segala kekurangannya…

Tapi mereka adalah ibu-ibu kita…

Kenapa kita kadang mengeluhkannya . Toh ibu kita bukan penjahat, bukan pemurtad, tidak melakukan kesyirikan. Toh ibu kita seorang muslimah, rajin ibadah lagi. Bukankah itu kenikmatan yang tak terhingga saat semua anggota keluarga kita dalam naungan Islam?

Seandainya pun ada kekurangan, namanya juga manusia. Kitapun sebagai anak banyak sekali kekurangan.

Bagaimana kalau beliau tak mau dinasihati?

Toh ia bukan sedang melakukan tindak kejahatan, paling hanya kesalahan ringan.

Mungkin banyak hal hal kecil yang mengesalkan tapi, mungkin kita bisa membantunya dengan berdoa agar ibu berubah. Bukankan kita sewaktu kecilpun banyak mengesalkan dirinya ?

Lagi pula walaupun ia melakukan hal yang buruk, kita harus menasihatinya dengan lembut tanpa menyakiti hatinya.

Pelajaran inilah yang kudapat dari teman Tunisia ku itu.

Dan aku sebagai seorang ibu, ku ingin anak-anaku kelak menjadi anak yang istiqomah dan tumbuh seperti bunga segar. Tapi itu mustahil terwujud tanpa pengorbanan dan ilmu yang cukup. Kutatap putri kecilku. Ah aku juga ingin suatu saat nanti ia dengan bangga berkata,” my mother is a mujaheed …”

Makna sebuah Cinta dan Tanggung jawab

Adakah yang lebih membahagiakan bagi seorang perempuan yang sudah menikah selain dari menjadi seorang ibu? Menjadi ibu bukan hanya lantaran alasan bilogis semata, tapi jauh dari itu adalah kesungguhan untuk membuktikan cinta yang paling agung. Lekatan cinta antara ibu dan anaknya tak akan pernah dapat dilerai oleh apapun walau sekaliber maut sekalipun. Manusia mana selain daripada Nabi Adam yang tidak memiliki ibu? Sungguh, setiap kali menyebut “ibu” membuat dada ini bergetar, ada nuansa sejuk yang mendamaikan. Ya, ada cinta di sana dan tumpuan kasih sayang seperti aliran sungai dari gunung yang tak akan pernah kering menuangkan air cinta itu ke muara yang dahaga.

Ibu menjadi simbol akan makna cinta sejati, lautan kasih sayang yang tak pernah mengenal kata tepi. Sungguh, setiap membaca kisah “ibu-ibu” yang lain, dalam pembuktiaan akan makna lautan cinta itu membuat bola mata ini terasa panas dan dada bergemuruh pada kerinduan yang membuncah. Ibu, di dekap dadamu bersemayam semua kedamaian.

Dadamu selalu lapang bagi semua keluh-kesah anakmu yang mencari pengakuan yang di luar sana selalu menjadi bahan cacian dan ejekan kebengisan dunia. Tak ada cinta yang mampu menandingi cintamu. Dan sebesar apapun bakti kami, namun itu tak akan mampu menebus setetes air susu yang engkau aliran dari tubuhmu yang menjadi darah daging di tubuh kami.

Dan wahai para ibu, beruntunglah karena Allah dan rasul-Nya telah menempatkan posisimu penuh dengan untaian mutiara kemuliaan yang tak ada tanding dan bandingnya. Percayalah keniscayaan pada kemuliaan hati itu akan mendapat imbalan yang setimpal, bahkan lebih dari segala kemuliaan yang pernah disematkan kepada orang-orang pilihan dari pengikut agama hak ini. Berikut ini untaian bingkisan cantik untuk para ibu.

Aisyah ra berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, siapakah yang lebih besar haknya terhadap perempuan? Jawab Baginda Saw, “Suaminya.” “Siapa pula yang berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah Saw, “Ibunya.”

Perempuan apabila salat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga dari mana saja yang dia kehendaki.

Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah Swt memasukkan dia ke dalam surga lebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun).

Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah Swt mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 keburukan.

Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah Swt mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah Swt.

Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ketika ibunya melahirkannya. Ibu yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.

Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dari pada 1000 lelaki yang jahat. Dua rakaat salat perempuan yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat salat perempuan yang tidak hamil.

Saya membaca sebuah feature di harian lokal (Riau Pos) yang begitu menyentuh. Kisah seorang ibu yang bekerja sebagai buruh operasional kebersihan (OP) Kota Pekanbaru. Memang sudah lumrah adanya, bahwa para pekerja PO itu sebagian adalah perempuan. Dan kita hampir setiap hari akan mendapati mereka sedang bekerja menyapu trotoar, merapikan taman-taman kota, mengumpulkan sampah-sampah di jalan dan pasar sampai harus memandikan lutut mereka di dalam air got yang begitu tak enak baunya. Mereka melakukan itu dengan kesungguhan dan seakan-akan tak pernah memperdulikan tatapan mata orang-orang yang kebetulan lewat atau sengaja memperhatikan mereka bekerja.

Ibu itu bernama Ginawarti (40-an), ibu dari lima orang anak, isteri dari seorang yang tak tetap pekerjaannya dan lebih banyak sebagai pengangguran, dan hanya tamatan sekolah dasar. Sebuah biografi yang lumrah kita dapati pada pekerja kasar seletingan dengan pekerjaan ibu Ginawarti karena memang pekerjaan seperti itu tidaklah menuntut skil yang mempuni, cukup berbekal kemauan dan tahan untuk mendapat perhatian yang tidak semestinya ketika bekerja. “Asal dapat bekerja dan anak-anak bisa makan, cukuplah,” pengakuannya polos.

Namun bukan itu yang membuat tulisan Pak Muslim Kawi (seorang jurnalis senior di Riau) terasa hidup dan patut dibaca. Agaknya kejelian dan insting jurnalis mantan ketua PWI Riau itu bisa menangkap ada sisi humanisme yang luar biasa dari sosok ibu kita ini. Ketika itu, tubuhnya yang taklah begitu berisi, muka pucat dan penuh bermandi peluh, sekali-kali dia berdiri memegangi perutnya yang sakit, bahkan untuk duduk saja waktu akan diwawancari perempuan perkasa itu harus dibantu oleh temannya. “Walau sakit ginjal sudah beberapa tahun, obatnya berendam di air parit saja,” ibu itu tersenyum pucat menyembunyikan rasa sakitnya di balik ketegarannya. Dengan gaji 22 ribu per hari, dia harus memberi makan 3 orang anaknya (2 orang sudah menikah).

Tentulah gaji sebesar itu tidaklah cukup memenuhi kebutuhan keluarga apalagi suaminya sudah lama menganggur. Karena cinta dan tanggung jawab untuk membantu menopang keberlangsungan keluarga, rasa sakit menahun itu ditahan-tahannya. Ibu, cinta itu adalah hanya milikmu dan bakti anak-anakmu tak akan pernah mampu menandingi.

Setelah membaca kisah ibu pekerja OP itu, mata ini berkaca-kaca. Ada rindu yang tiba-tiba menyeruak di dada. Pikiran ini dengan cepatnya membaca raut muka yang pucat dan sering bermandi peluh milik dari seorang perempuan yang teramat saya cintai. Beliau tidak pernah mengeluh akan penyakitnya, rematik dan nafas sesak, walau hampir setengah hari bermandi panas mentari di tengah sawah, kadang-kadang ketika rombongan kelalawar sudah berbondong menyongsong malam baru tubuh letihnya menghampiri pintu rumah.

Belum lagi urusan rumah yang tak pernah selesai oleh dua orang anak perempuannya, dan aku biasanya tak pernah memikirkan pekerjaan rumahan. Namun beliau masih tetap turun tangan, dan kepayahan itu tetap melekat di tubuhnya yang semakin rapuh yang bertambah-tambah sampai detik ini. Ah, ibu, kapan anakmu ini mampu membalas setitik air susu kasihmu dan menyenangkanmu dari semua kesusahan yang menyesakkan itu? Tik, air bening itu merembes dari pelupuk mata ini yang terasa disulut bara ketidaksanggupan untuk membuktikan cinta ini kepadanya. Doakanlah anakmu ini ibu agar bisa segera mampu membalas lautan cintamu.

Dan cinta untukmu Ibu tak akan pernah tergantikan
adik2

Terus bekerja dan Mensyukuri

Ismail telah menikahi wanita dari Kabilah Jurhum. Suatu ketika Ibrahim –setelah isterinya Hajar meninggal, mendatangi Ismail untuk melihat harta warisannya. Akan tetapi Ibrahim tidak berjumpa dengan Ismail.

Ibrahim bertanya kepada istrinya tentang suaminya, lalu ia menjawab, “Ia keluar mencari rezeki untuk kami.” Kemudian Ibrahim bertanya tentang keadaan mereka, “Bagaimana keadaan kalian?” Istri Ismail menjawab,”kami dalam kesulitan, kesempitan, dan kesengsaraan.”

Ketika hendak berpamitan, Ibrahim berwasiat kepadanya, “Apabila suamimu datang, ucapkanlah salam kepadanya dan katakanlah agar mengganti ‘pintu gerbang’ rumahnya.”

Ketika Ismail datang dan menanyakan adakah seseorang yang berkunjung ketika ia pergi dan apa pesan yang ditinggalkannya, isterinya menjawab, “Ya, ada seorang kakek datang kepada kita dan bertanya tentang dirimu. Aku pun menjawab tentang keadaanmu. Kemudian ia juga menanyakan bagaimana kehidupan kita, aku pun memberitahu bahwa kita dalam keadaan kesusahan dan kesedihan. Ketika ia hendak berpamitan, ia berpesan agar aku mengucapkan salam kepadamu dan menitip pesan agar engkau mengganti ‘pintu gerbang’ rumah ini.”

Ismail berkata, “Dia adalah bapakku dan telah menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada keluargamu.”

Ismail kemudian menceraikan isterinya dan menikah dengan wanita lain. Ibrahim menunggu kondisi mereka hingga waktu yang dikehendaki Allah SWT tiba. Ketika saatnya tiba, Ibrahim mendatangi anaknya, akan tetapi untuk kedua kalinya Ibrahim tidak bertemu dengan Ismail. Ibrahim hanya berjumpa dengan isteri Ismail, lalu beliau bertanya tentang Ismail dan keadaan mereka.

Isteri Ismail menjawab, “Ia keluar mencari rezeki untuk kami. (Alhamdulillah), kami dalam keadaan baik dan lapang.” Ibrahim bertanya, “Apa makananmu dan apa minumanmu?” Istri Ismail menjawab, “Daging dan air.” Lalu Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkatilah mereka dengan daging dan air itu.”

Ketika hendak berpamitan, Ibrahim berwasiat kepadanya, “Apabila suamimu datang, ucapkanlah salam kepadanya dan suruhlah untuk mempertahankan ‘pintu gerbang’ rumahnya.”

Ketika Ismail datang dan menanyakan adakah seseorang yang berkunjung ketika ia pergi, dan apa pesan yang ditinggalkannya, isterinya menjawab, “Ya, ada seorang kakek yang baik rupa datang kepada kita dan bertanya tentang dirimu. Aku pun bercerita tentang dirimu. Ketika ia hendak berpamitan, ia berpesan agar aku mengucapkan salam kepadamu dan menitip pesan agar engkau mempertahankan ‘pintu gerbang’ rumah ini.”

Ismail berkata, “Dia adalah bapakku dan engkau pintu gerbang itu. Dia menyuruhku untuk mempertahankan dirimu.”

Semenjak itu, Allah SWT memberkahi keluarga Ismail serta keturunannya, yaitu penduduk Makkah dengan makanan mereka, seperti daging dan air hingga hari kiamat tiba. Semua itu tidak lepas dari doa Ibrahim kepada mereka sebelumnya.

—-

Bagi saya, kisah tersebut memberi pelajaran penting tentang sebab musabab timbulnya keberkahan di dalam kehidupan. Kita tidak hanya cukup dengan bekerja, sebagaimana Ismail bekerja. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita mensyukuri hasil pekerjaan kita itu. Inilah yang memberkahkan atas hasil yang kita peroleh.

Hal tersebut selaras dengan firman Allah SWT, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)

Di masa yang penuh dengan ketidakpastian dan krisis ini, dimana angka pengangguran makin bertambah, PHK meningkat, lapangan kerja makin sulit, daya beli masyarakat makin terpuruk, harga-harga semakin naik, pendapatan riil semakin berkurang, kerawanan sosial makin tajam, dan tekanan hidup makin menghimpit, adalah wajar jika banyak orang berkeluh kesah tentang kesulitan, kesempitan, dan kesengsaraan hidup sebagaimana dialami oleh isteri pertama Ismail pada kisah tersebut.

Namun, hanya berkeluh kesah tidaklah memberikan perubahan dan solusi apa-apa. Justru dikhawatirkan, ia akan makin mempersempit hati, mendangkalkan pikiran, mematikan kreativitas, dan melemahkan semangat untuk berjuang. Al hasil, perubahan ke arah yang lebih baik pun sulit untuk diwujudkan.

Masa krisis sekarang ini, tidak ubahnya dengan masa krisis yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW atau Nabi Yusuf a.s, yang mana ia merupakan bagian dari ujian keimanan. Yang diharapkan dari krisis ini, orang akan tetap bekerja tanpa mengeluhkan hal-hal yang tidak penting, sehingga perbaikan pun bisa diharapkan meski harus berjalan bertahap dan pelan-pelan. Yang menyedihkan adalah banyak orang yang tidak melakukan kerja apapun dan sibuk dengan mengeluhkan kondisi yang ada. Tak heran jika mereka terpuruk dan terjerambab jatuh dalam kehidupan ekonomi. Namun yang lebih menyedihkan adalah mereka yang sudah terjerembab dari segi ekonomi, terjerambab pula dari segi keimanan dan akidah. Mereka sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang halal dan mana yang haram. ‘Mencari yang haram saja susah apalagi mencari yang halal’, demikian ujar mereka. Naudzubillah, padahal Allah SWT telah memberikan jaminan rezeki kepada semua makhluk-Nya dan Allah SWT maha kaya dengan karunia-Nya.

Tidak ada cara lain dalam menghadapi krisis yang berpotensi makin parah ini dengan terus bekerja sebaik-baiknya, mensyukuri hasil, dan memperbanyak doa. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan kelapangan di dalam kehidupan dan menyelamatkan kita dari krisis yang berkepanjangan. Amin.

Waallahua’lam bishshawaab

Jadilah Kayu Jati…..

pernah merasa sedih dan menitikan air mata tanpa kita ketahui penyebabnya…, ketika kita sudah berbuat untuk bertujuan baik serta benar. tetapi kita terima adalah kritikan yang pedas. ketika kita salah mengambil keputusan, waktu sebelumnya keputusan itu telah kita pertimbangkan dengan baik…

Apa yang harus kita lakukan saat seperti itu..?, jangan lah kita berputus asa!! bangkit.. Terus berjuang..

Kita adalah matahari yang ditakdirkan sebagai khalifah di bumi, kita tidak akan menjadi matahari jika kita tidak memancarkan cahaya, sekalipun mendung dan awan kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat diri kita…

Kita coba instropeksi diri, kita sering marah ketika melihat orang lain sukses, coba deh renungkan sejenak… kenapa mereka berhasil… kerena mereka memang sudah bekerja keras dan membuka jalan untuk meraih kesuksesan….

Apa yang harus kita lakukan saat ini… mari kita berjuang untuk lebih sukses dari orang itu, mari kita buat jalan kita.. mari kita kejar kesuksesan.. apakah kita bisa sukses jika kita tak pernah mengejar sukses…?, jangan hanya marah dan iri atas kesuksesan orang lain…

Jadilah seperti air..Selalu mengalir…melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas.

sahabat…jangan mau dikalahkan oleh keadaan,,tetapi kalahkan keadaaan !!

Sahabat ,,,jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik. Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman. Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu !

Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil,

dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu.

Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti

perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya Diri kita sendiri…? dan dengan bantuan diri kita sendiri.. kita harus berjuang untuk maju.. tidak ada yang dapat menolong kita menuju kesuksesan selain diri kita sendiri dan Tuhan Yang Maha Kuasa…

Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi dirimu dan Tuhan… kini saatnya berjuang.. setelah tetesan air mata kesedihan jatuh.. maka instropeksi diri dan berjuanglah.. untuk keberhasilan kita.. jangan jadi orang yang lemah seperti ranting kering… yang rapuh.. jadilah kayu jati yang kokoh dan bernilai tinggi.. Asah dan bentuklah diri kita suatu ukuran yang bernilai tinggi… bukan hanya serpihan gergaji yang di buang orang………….img_27461

RIDHa DENGaN APa YAnG ADa

da kebiasaan manusia yang sulit untuk ditinggalkan, bahkan seakan telah menjadi jati dirinya. Hari ini orang menyebutnya penyakit hedonisme. Lebih keren dan memojokkan lagi anak-anak muda menyebutnya matre. Biasanya kata ini meluncur dari seorang bujangan kepada lawan jenisnya yang cendrung matrealistis. Segala sesuatu diukur dengan materi. Sehingga kebiasaan ini menjadi sebuah persaingan pesat pada akhirnya berbuah pada penyakit cinta dunia yang berlebihan. Selalu ingin lebih dari tetangganya, berlomba mengejar materi. Sampailah ia lupa akan tujuan utamanya tercipta. Yaitu mengabdi kepada Allah Swt.

Allah Swt. dalam firmanNya: “maka terimalah apa-apa yang telah aku berikan padamu dan jadilah kamu termasuk dari golongan yang bersyukur.”(al-A’raf: 144)

Allah Swt. telah memberikan ladang bagi kita berupa kehidupan dialam dunia. Darinya kita dituntut mendayagunakannya dengan sebaik mungkin. Sehingga segala potensi diri yang kita miliki dari Allah Swt. menjadi tersalurkan. Hal itu bisa kita lakukan dengan sikap ridha dengan apa adanya. Sehingga berkeinginan untuk menggunakan apa yang ada secara sungguh-sungguh.

Allah Swt. dalam firmanNya: “Kami telah berikan kepada mereka ladang kehidupan mereka dialam dunia.” (al-Zuhruf: 32)

Seorang penulis asal Mesir Mahmud Al-Mashri menuturkan: “ridha adalah ibarat sebatang pohon kebaikan yang senentiasa disiram dengan air ikhlas dikebun tauhid. Akarnya/pondasinya adalah iman. Dahan-dahannya adalah amal shaleh dan nantinya ia akan membuahkan buah yang matang dan manis.”

Ke-tidakridhaan dengan apa yang Allah berikan kepadanya menyebabkan kesesakan dihati yang sulit dibendungi. Rasa ke-tidakpuasan selalu menjadi bayang-bayang dilayar otak. Kenyamanan hidup seakan begitu jauh dari pandangan mata zahir. Indahnya panorama dunia berubah menjadi kegersangan menghantui.

Karenanya, tak heran kalau nanti siapa saja yang terhinggap penyakit ini jatuh stres, prustasi dan bahkan sampai melenyapkan nyawanya. Wal’azu billah. Ia terhelus semilir angin dunia, membuatnya terlelap. Aksesoris duniawi telah menggiringnya menjadi penghambanya. Padahal, meski kita juga dituntut aktif dalam kehidupan duniawi, berbuat yang terbaik untuk diri dan orang lain, namun kita juga mesti ingat ada kehidupan abadi diakhirat kelak yang menanti. Kita tidak tahu dikelompok mana kita akan dikumpulkan.

Ibarat penumpang kapal laut. Kita tergolong kelas mana, ekonomi, bisnis atau apa. Nah, alam dunia adalah ladang bagi kita untuk mendapat kelas-kelas tersebut. Dan kita mau kemana? Kejurang atau ketaman? Kalau ketaman disana terbentang lebar jalan. Kalau mau merintis menuju jurang juga disana tersedia jalan.

Mengakhiri tulisan ini mari kita simak penuturan Hasan Al-Bashri berikut ini:“sesungguhnya kehidupan duniawi adalah tempat transit, dunia ibaratkan racun, orang akan menyantapnya dengan lahap karena kejahilannya (kelalaiannya), tapi yang mengetahuinya ia akan menghindarinya (tidak terlalu menomorsatukan dunia).”

Jika demikian, masihkah kita berlomba mengejar ‘racun’? atau kita memilih ‘madu’ ridha dengan apa adanya yang nantinya berbuah ketentraman jiwa? Semoga.

Wallahu a’lam bisshawab

RAHASIA DIBALIK IKHLAS

Beberapa waktu lalu, salah sorang kawan berkunjung ke rumah. Kedatangannya tidak terlalu sering, malah bisa dikatakan termasuk jarang untuk standar kunjungan yang biasa dilakukan kawan-kawan lain. Sebab biasanya, jarak dua atau tiga mahattah (halte) termasuk dekat untuk ukuran kita yang bermukim di perkampungan sepuluh ini. Hanya cuma merogoh kantong satu pond, bisa digunakan untuk pulang pergi. Malah biasanya juga cukup jalan kaki.

Kami bertemu disela-sela kesibukan masing-masing. Setiap jumpa dia bilang, langkahnya menuju kediaman saya karena memang ia jenuh dengan aktivitas belajar. makanya ia datang untuk sekedar bersilaturahmi. Dan seringnya, kalau dia sudah datang pasti ada saja topik yang didiskusikan.

Bermula dari diskusi ringan. Saya, dia dan kawan serumah saya. Saya akui, kawan satu almamater saya itu orangnya memang sangat senang berfikir. Dengan raut wajah serius, bertengger kaca mata, dan rambut ikal sedikit dihiasi rambut putih dikepalanya, ia diberi label sebagian kawan sebagai sorang yang teoritis. Karena setiap omongannya, cara berfikirnya syarat dengan analisa-analisa ringan dan perenungan. Bahkan sampai ada yang bilang, ia Socrates abad sekarang. Ya, walaupun itu berlebihan, tapi memang renungan-renungan sering buat kami berfikir. Dan pertanya-pertanyaannya selalu memunculkan ide baru.

Topik pertama, kami membincangkan soal teknologi. Memang kedengarannya lucu, kita yang kesehariannya belajar ilmu agama di bangku Azhar, malah bicarain teknologi. Tapi ya itulah adanya. Penasaran melihat perkembangan teknologi yang ada, membuat kami sedikit melihat dan menghubung-hubungkannya dengan realitas agama.

Sampailah pada persoalan ruang dan waktu. Dia bilang, salah satu keberhasilan teknologi sekarang bahwa ilmuwan telah mengungkapkan misteri ruang dan waktu. Apa yang mereka temukan tentang partikel-partikel kecil dan atom adalah teknologi. Sampai akhirnya, seorang Einstein membuat bom Atom sebagai senjata pemusnah massal. Lihat saja apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, bom yang besarnya lebih kecil dari pesawat yang bawa bom itu sendiri, bisa meluluhlantahkan dua kota besar yang ada di Jepang. Bukan hanya itu, beberapa saat setelah kehancuran kota tersebut, cuaca yang ketika itu mendung dan turun hujan, kemudian saat semua penduduk kota yang selamat ketika itu kehausan, langsung meminum air hujan tersebut. Wal hasil, semua yang minum juga meninggal. Sebab hujan yang turun adalah proses uap yang diambil dari zat kimia bom yang tersisah.

Lalu saya melontar pernyataan; kalaulah ruang-waktu itu sebegitu dahsyat, saya berfikir sekat dimensi alam nyata dan alam gaib juga bisa dihilangkan. Hipotesanya, sebut saja Jin dan alamnya termasuk gaib. Kalau dilihat dari komponen ciptaannya, jin terbuat dari api. Dalam bahasa arabnya “nar”. Kata “nar” ini adalah pecahan dari kata “nur” artinya cahaya. Berarti kesimpulannya, Jin dan alam sekitarnya tidak terlihat karena peredaran alam jin secepat bahkan lebih cepat dari cahaya. Pertanyaannya kemudian, jika ada ilmuan yang bisa menemukan alat yang bisa melihat kecepatan cahaya bergerak, berarti memungkinkan untuk mengungkap tabir rahasia alam jin. Hanya saja, karena kami bukan ilmuan, dan tidak tahu banyak mengenai fisika dan metafisika, perinsipnya kalau Allah menghendaki semua pasti terjadi.

Kemudian, diskusi ini berlanjut pada seputar masalah tujuan. Dia bertanya, kira-kira apa sih tingkat puncak kenikmatan dari ibadah. Sebab yang dia rasakan, sewaktu ramadhan lalu, dirinya bisa dibilang puas beribadah. Malahan frekuensi ibadanya meningkat drastis, tapi malah justeru yang timbul adalah kebosanan. Jadi apa yang dilakukan para sufi, dimana letak nikmatnya ibadah tersebut. Sementara rutinitas ibadah yang dilakukan dalam artian formal seperti shalat dan lain sebagainya, terkadang kalau sudah sifatnya addictif, maka akan mengabaikan kehidupan dunia.

Lantas, saya balik bertanya kira-kira apa makna ungkapan salah seorang sufi wanita yang bernama Rabiatul adawiyah. Katanya; dia beribadah bukan berharap surga dan bukan pula takut neraka. Dan teringat juga salah satu lirik lagu Crisye; jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kita sujud pada-Nya.

Satu hal yang saya garisbawahi, kejayaan Islam yang diperoleh para pendahulu kita, justeru terletak pada tujuan murni yang hendak mereka capai. Bahwa kekuasaan Islam yang semula berawal dari semenanjung kecil Arabia, bisa meluas hingga dua pertiga dunia. Kenapa bisa seperti itu, karena mereka memahami fungsi mereka sebagai pemakmur bumi yang dibingkai dalam ikatan ibadah.

Dalam setiap tindak tanduk keseharian mereka, semua berjalan dalam rangka ibadah. Dan semuanya diikat kembali dengan tali keikhlasan. Perintah Allah tentang ibadah juga dirangkaikan dengan kata ikhlas. Dan sebagai motivasi, ada hadis yang menggariskan ibadah dengan senantiasa berinovasi dalam amal dunia. Dengan beribadah seolah melihat Allah, sekiranya pun tidak terlihat, dijamin Allah akan melihat apa yang kita kerjakan.

Di sinilah peran ikhlas tersebut. Ikhlas bukan pasrah, tapi ikhlas adalah tujuan tanpa batas. Sebab objek yang dituju adalah Allah. Ia tak dapat terlihat, berarti setiap langkah usaha yang dibuat, terus akan berjalan. Selama masih ada kesempatan hidup, maka inovasi harus ada. Biarlah semua Allah yang menilai usaha kita.

Saya katakan, coba anda buat sesuatu tanpa embel-embel dibelakang. Tujuannya, bukan untuk dipuji, jadi kaya, terhormat atau lainnya. Satu aja, arahkan tujuan anda hanya kepada Allah. Apa yang akan anda rasakan, anda tak akan mengeluh lelah, bosan, jenuh dan lain sebagainya. Justru, jika tujuan itu berhasil, keridhaan Allah sudah dijamin dan bisa jadi anda akan dipuji, kaya serta terhormat di mata manusia.

Itulah ikhlas, tujuan tanpa batas memotivasi kita untuk berbuat terus lebih baik. Karena Allah melihat semua apa yang kita kerjakan

UNTUK SEORANG LAKI LAKI : I LOVE YOU

Laki-laki itu sudah tua. Lebih dari setengah abad umurnya. Kacamata selalu menemani hari-harinya. Keriput tua hampir sempurna berada di wajahnya. Ada lelah yang menggelayuti raut mukanya. Namun, raganya masih tampak gagah. Tetap menyiratkan semangat. Selalu ada senyuman menghiasi wajah tuanya. Ada segudang cinta di pelupuk matanya. Ada seribu kasih sayang dari dalam hatinya. Tersurat dengan sangat jelas. Bukan dalam bentuk kata-kata. Beliau sangat sedikit dalam berucap. Melainkan dalam tindakan dan perbuatannya. Nyata sekali.

Terakhir saya menemukan wajahnya ketika saya mudik ke kota kelahiran saat Idul Fitri 1427 H kemarin. Saat-saat bersama dengannya adalah waktu-waktu langka yang bisa saya temukan. Terkadang, kebersamaan itu hanya dalam hitungan hari. Tidak sampai pada hitungan bulan. Apalagi setelah saat ini, jarak yang jauh memisahkan saya dan beliau. Bukan hanya dalam hitungan meter. Tapi ada laut kecil yang memisahkan tempat kediaman kami berdua. Bersama dengannya, hanya sedikit kata-kata yang terungkap lewat bibirnya. Bahkan, untuk sekedar sebuah kata yang bernama kerinduan. Dan, sampai sekarang, masih seperti itu. Terkadang, kerinduan di hati saya padanya belum usai untuk mendengarkan cerita-ceritanya lewat telepon. Ada keinginan untuk mendengarkan ceritanya dengan lebih panjang. Tentang kesehatannya. Tentang hari-harinya. Tentang apapun darinya. Namun, tampaknya hal itu bukanlah kebiasaannya. Dan, akhirnya, saya menjadi lebih menyadari, begitulah beliau. Sedikit berbicara, tetapi banyak berbuat. Karena itulah, bagi saya, cukuplah apa yang beliau lakukan untuk saya menjadi bukti cintanya untuk saya. Menjadi pula bukti kasih sayangnya untuk saya. Itulah, cara beliau mengungkapkan kata cinta dan kasih sayang. Dan saya harus memahami hal itu.

Hampir di setiap kepulangan saya ke kota kelahiran, wajah tua itu selalu adalah yang pertama yang saya temukan. Beliau yang merelakan sebagian waktu tidurnya untuk menjemput saya di tempat akhir perhentian bis. Terkadang saat-saat matahari belum nampak di ufuk timur. Namun, di kali yang lain, ketika sang surya sudah menampakkan wajahnya, saya lebih memilih menggunakan angkot. Bukan karena beliau menolak untuk menjemput saya. Bukan..bukan karena itu. Cuma saya tidak tega, terus-terusan memberatkan beban di pundak beliau. Dan, akhirnya, akan ada kecewa di wajah beliau. ”Kenapa tidak nelepon dulu. Kan bisa dijemput?”, begitulah tanya beliau.

Wajah tua itu juga yang selalu mengisi hari-hari masa kecil dan masa remaja saya. Dengan cintanya. Dengan kasihnya. Dengan sayangnya. Setiap hari. Teringat akan larangan beliau yang tidak membolehkan saya untuk menginap di sebuah acara perkemahan. Saya memang marah pada beliau saat itu. Dalam hati tentunya. Saat ini, setelah puluhan tahun kejadian itu terjadi, barulah saya mengerti kalau larangan itu adalah bukti cintanya yang lain. Beliau khawatir dengan saya. Dan beliau mengungkapkannya melalui larangan itu.

Sepeda motor honda tua warna merah adalah teman bagi beliau melalui hari-harinya. Sepeda motor itu pula yang mengantarkan beliau menunaikan kewajibanya sebagai seorang guru SD di kota kelahiran saya. Sampai saat ini, sepeda motor honda itu tetap menjadi teman bagi beliau. Mengantar beliau kemana saja. Ada momen yang sangat membekas di hati saya. Mengenai beliau dan sepeda motor honda tua warna merah itu. Teringat di benak saya, rutinitas beliau di pagi hari hari sebelum beliau berangkat ke tempat beliau mengajar. Mengantar saya ke sebuah SMP tempat saya sekolah dengan mengendarai sepeda motor honda tua warna merah itu, itulah yang beliau lakukan untuk saya. Biasanya, beliau akan sedikit berbelok menuju sekolah saya sebelum akhirnya meneruskan rute yang seharusnya beliau lewati untuk menuju tempat sekolahnya. Rute sekolah saya memang berbeda dengan rute sekolah tempat beliau mengajar. Ini adalah cara beliau yang lain dalam mencintai saya.

Beliau sangat mengutamakan pendidikan saya. Beliau rela mengorbankan apapun untuk pendidikan saya. Juga untuk saudara dan saudari saya, tentunya. Beliau rela mengorbankan sesuatu yang bernama kemewahan demi pendidikan kami. Beliau tidak hanya sekedar berteori. Terlalu banyak bukti atas prinsip beliau. Masih teringat di benak saya saat beliau rela untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang lumayan besar untuk menghargai nilai sembilan di rapor SD dan SMP saya. Tidak hanya saya. Saudara saya juga. Saudari saya juga. Tidak tanggung-tanggung. Satu angka sembilan dihargai dengan seribu rupiah. Momen-momen pembagian rapor adalah saat-saat yang sangat membahagiakan kami. Saya, kakak dan adik saya. Saat itu berarti, kami akan mendapatkan uang jajan yang lebih. Lumayan besar pula, untuk ukuran kala itu.

Tidak hanya itu. Rumah kami adalah bukti lain prinsip beliau. Rumah itu adalah rumah yang sederhana. Bahkan hingga kini. Berbeda dengan deretan rumah mewah yang berada di sepanjang deretan rumah kami. Bukan karena beliau tidak mampu menyinggahkan sedikit kemewahan di rumah kami. Beliau lebih suka gajinya dialokasikan untuk pendidikan kami daripada sekedar membeli sebuah kemewahan yang akan menghiasi rumah kami. Dulu, kala saya masih berdiam di kota kelahiran, ada malu di hati saya ketika teman-teman akan berkunjung ke rumah saya. Maklumlah, saat itu, saya masih sangat egois. Belum mengerti tentang perjuangan beliau untuk kami. Tapi, tidak saat ini. Saya sudah menyadari kesalahan saya. Saat ini, rumah itu adalah rumah kebanggaan saya. Setiap petaknya meninggalkan kesan cinta beliau. Di mana pun di bagian rumah itu. Di teras. Di ruang tamu. Di ruang TV. Di kamar tidur. Bahkan, di dapur. Saat ini, senantiasa saya merasa rindu menatap rumah itu. Kerinduan yang harus saya tahan, sampai Idul Fitri menjelang.

Setiap anak, Insya Allah, mempunyai rejekinya masing-masing. Itulah kata-kata beliau yang senantiasa terngiang-ngiang di telinga saya. Sampai kini. Beliau senantiasa memompakan kata-kata itu pada kami, saya dan saudara-saudara saya, saat-saat masa-masa sulit itu menghampiri keluarga saya. Saat-saat kami harus menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi dalam waktu yang hampir bersamaan. Namun, semangat tidak menyerah selalu ada di wajah beliau. Semangat itu pula yang membuat kami bertekad untuk bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik untuk beliau. Menyelesaikan kuliah kami.

Alhamdulillah ya, tidak terasa, akhirnya, kalian bisa menyelesaikan sekolah kalian, begitulah beliau berucap. Kata-kata itu saya dengar ketika saya sudah menyelesaikan kuliah saya. Itu adalah kata-kata lain yang meninggalkan sendu di hati saya. Kala itu ada riak kecil yang menyelinap di hati saya. Hampir saja membentuk telaga di kedua pelupuk mata saya. Saya yakin, kata-kata itu adalah puncak perjuangan beliau untuk melewati masa-masa sulit itu. Dan saya senantiasa menemukan raut muka bahagia di wajah beliau. Dalam foto wisuda kami. Senyum itu selalu sama.

Itulah tentang beliau.

***

Kasih ibu tiada bertepi Kasih ayah sepanjang jalan Kasih teman selagi baik Kasih saudara selagi ada

Bait lagu itu adalah penggalan lagu yang sering saya lantunkan ketika masa kecil. Kini, lagu itu mengingatkan saya pada beliau. Beliau adalah seorang laki-laki yang teramat saya sayangi. Beliau adalah seorang laki-laki yang kepadanya saya ingin memberikan cinta dan kasih saya. Beliau adalah seorang laki-laki yang untuknya segala rasa hormat saya persembahkan. Yah, memang benar, beliau adalah bapak saya. Orang tua kandung saya. Seorang laki-laki yang darahnya mengalir dalam tubuh saya. Seorang laki-laki yang semangatnya selalu menginspirasi saya. Seorang laki-laki yang cinta dan kasih sayang tidak pernah putus untuk saya, sepanjang jalan kehidupan saya. Dari dulu, dan hingga sekarang. Dan sampai kapanpun, walaupun suatu saat nanti, ada waktu yang membuat kami harus berpisah.

Laki-laki tua itu itu memang tidak pernah bertutur secara lisan tentang sebuah cinta dan kasih sayang. Tapi, apa yang beliau lakukan untuk saya, sampai dengan sekarang, adalah tutur lain tentang cinta dan kasih sayangnya.

Bulan Februari adalah bulan yang sangat berarti bagi beliau. Tidak hanya untuk beliau, tapi juga untuk saya, anaknya. Bulan ini adalah bulan lahir beliau. Tanggal 2 Februari, tepatnya. Dan saat ini beliau memasuki umur 54 tahun. Sebuah umur yang sudah terbilang menjelang senja. Di hari bahagia beliau ini, ingin sebuah kata yang saya persembahkan untuk beliau. Sebuah kata yang belum pernah saya ungkapkan kepada beliau. Sejak dulu. Saya teramat malu mengungkapannya. Namun, tidak untuk saat ini. Saya tidak lagi malu mengungkapannya. Semoga kata ini bisa mewakili cinta saya untuknya. Semoga kata ini bisa menjadi kado terindah di hari lahir beliau. Bapak, I love you. aku sayang bapak.